Pelajaran singkat tentang deteksi kebocoran listrik dengan multimeter
Seperti yang diketahui, kebocoran pada peralatan listrik bisa terjadi kapan saja. Bagaimana cara mendeteksi kebocoran secara tepat waktu? Berikut beberapa metode sederhana yang mungkin ingin Anda coba.
Pertama, ukur tegangan bocor dengan multimeter. Tempatkan saklar multimeter pada rentang pengukuran tegangan AC, biasanya pada rentang tegangan AC 250V. Kemudian, masukkan probe hitam ke dalam tanah di dekat peralatan yang diuji dan probe merah ke dalam casing logam peralatan tersebut. Pada titik ini, lihat pembacaan pada multimeter. Jika jarum tidak bergerak, Anda dapat memindahkannya secara bertahap ke gigi yang lebih rendah hingga data spesifik ditunjukkan, yaitu tegangan bocor perangkat. Jika masih tidak ada indikasi saat probe berada di kisaran rendah, berarti tidak ada fenomena kebocoran pada perangkat.
Kedua, gunakan pena uji untuk memeriksa kebocoran listrik. Inspektur memegang pena uji dan langsung menghubungkannya ke casing logam peralatan listrik. Jika tabung neon pada test pen menyala, hal ini menandakan peralatan mengalami kebocoran dan tegangan bocornya tinggi. Bila tabung neon tidak menyala, bukan berarti tidak ada fenomena kebocoran pada peralatan. Mungkin karena tabung neon tidak dapat menyala karena tegangan bocor yang rendah, atau mungkin tidak ada tegangan bocor.
Ketiga, bila tidak ada multimeter atau pena uji, Anda dapat menyentuh casing logam peralatan listrik dengan punggung tangan. Bila tangan mati rasa atau tersengat listrik, hal ini menandakan perangkat mengalami kebocoran tegangan. Waspada bila ada rasa tersengat listrik, karena menandakan tegangan bocor relatif tinggi. Hentikan mesin untuk pemeriksaan dan analisis penyebabnya, hilangkan kesalahan sebelum digunakan, jika tidak, kecelakaan sengatan listrik dapat terjadi.
