Kesalahan dalam pengukuran tegangan dengan multimeter
Proses pengukuran multimeter digital diubah menjadi sinyal tegangan DC oleh rangkaian konversi, kemudian sinyal analog tegangan diubah menjadi sinyal digital oleh konverter analog-ke-digital (A/D). Kemudian dihitung dengan counter elektronik, dan terakhir hasil pengukuran langsung ditampilkan di layar tampilan dalam bentuk digital.
Fungsi pengukuran tegangan, arus, dan hambatan dengan multimeter dilakukan melalui rangkaian konversi, sedangkan pengukuran arus dan hambatan didasarkan pada pengukuran tegangan. Dengan kata lain, multimeter digital merupakan perpanjangan dari voltmeter DC digital.
Misalnya, jika terdapat tegangan standar 10V dan dua multimeter dengan roda gigi 100V, level 0,5 dan roda gigi 15V, serta level 2,5 digunakan untuk pengukuran, manakah yang memiliki kesalahan pengukuran terkecil?
Pengukuran pertama: kesalahan absolut maksimum yang diijinkan △ X{{0}}± 0.5% × 100V=± 0,50V.
Pengukuran kedua: Kesalahan absolut maksimum yang diijinkan △ X{{0}}± 2,5% × l5V=± 0,375V.
Membandingkan △ X1 dan △ X2, terlihat bahwa walaupun ketelitian meter pertama lebih tinggi dibandingkan meter kedua, namun kesalahan yang dihasilkan saat mengukur dengan meter pertama lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang dihasilkan saat mengukur dengan meter kedua. Oleh karena itu, terlihat bahwa ketika memilih multimeter, akurasi yang lebih tinggi belum tentu lebih baik. Dengan multimeter yang sangat akurat, penting juga untuk memilih rentang yang sesuai. Hanya dengan memilih rentang yang tepat, potensi keakuratan multimeter dapat dimanfaatkan sepenuhnya.
Konverter A/D voltmeter DC digital mengubah tegangan analog yang terus berubah menjadi nilai digital, yang kemudian dihitung oleh penghitung elektronik untuk memperoleh hasil pengukuran. Rangkaian tampilan decoding kemudian menampilkan hasil pengukuran. Rangkaian kontrol logika mengoordinasikan pengoperasian rangkaian kontrol dan menyelesaikan seluruh proses pengukuran secara berurutan di bawah pengaruh jam.
